SENDANG SANI

Lokasi: Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu. Jarak tempuh 4,9 km dari pusat kota.






Suatu cerita pada zaman Walisongo, Sunan Bonang akan bepergian ke Sunan Muria di pegunungan Muria ditemani oleh dua orang santrinya (Ki Dudo dan ki Kosim).
Dalam perjalanan, mereka haus dan panas karena perjalanan dari Jawa Timur menuju Gunung Muria. Lantas, Beliau meminta muridnya untuk mencari air untuk minum dan berwudhu menunaikan ibadah sholat.
Maka sunan bonangpun memberikan tongkatnya kepada santrinya tersebut sambil berpesan "Agar mencari air di bawah pohon rindang serta segera kembali apapun yang ia dapati" sang santripun segera pergi untuk mencari, pohon yang rindang yang ia caripun di temukan, dan di tancapkanlah Tongkat yang dibawa tersebut ajaib, dari tancapan tongkat tersebut keluarlah air jernih yang terus keluar, melihat air tersebut sang santripun kegirangan minum dan mandi. ternyata sang santri tersebut lupa akan pesan sang Sunan melihat air yang jernih  Bahwa dia di suruh cepat kembali oleh sang sunan.
Karena terlalu lama menunggu sang sunanpun mencari kemana gerangan santri yang ditugasi untuk mencari air tersebut, karena waktu sudah mau menjelang asahar, di carilah kesana-kemari sang santri tersebut, setelah beberapa lama mencari maka di temukanlah sang santri tersebut, sang santri tersebut tak sadar akan kehadiran sang sunan karena asyiknya mendi, melihat santrinya tersebut " tanpa sadar sang sunan mengucap" kamu ini aku suruh cari air untuk mimum dan wudhu, dan aku berpesan agar segera kembali kok malah mandi nggak habis-habis, mandi nggak selesai-selesai seperti Bulos ( Kura-kura)"  Tiba-tiba santri tersebut berubah menjadi bulus.
Sang santripun kaget dan segera naik ke atas, akan tetapi betapa terkejutnya dia setelah melihat wajahnya dalam air, wajahnya berubah menjadi Seekor bulus (kura-kura), melihat hal tersebut sang santri langsung meminta maaf kepada sang sunan, sang sunanpun memaafkanya, akan tetapi apa daya nasi sudah menjadi bubur, perkataan tak mungkin di tarik kembali. dalam wujud yang seperti itu sang santripun ingin terus mengikuti sang suna kemuria, akan tetapi sang sunan tak mengizinkanya, takut nanti masyarakat pada heran dan takut, maka di perintahkanlah sang santri tersebut untuk tinggal dan menjaga Bekas tancapan tongkat yang terus menerus mengeluarkan air. Sebelum  melanjutkan perjalanan sang sunan mengatakan " Kelak orang-orang akan mengenal sendang ini dengan sebutan sendang sani, dan desa inipun aku namai desa Sani. kata tersebut berasal dari kata sendang , sementara sani =disisani.

PENDAFTARAN DUTA WISATA

Powered byEMF Contact Form
GAGEGO DOLAN PATI!!!
Powered byEMF Form Builder